Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Story of My Life : Perjalanan Mudik Bengkulu 2022




Lebaran Idul Fitri tahun 2022 kemarin kami memutuskan untuk mudik pulang ke Bengkulu. Suami sejak awal berkata kalau dia ingin mudik pakai jalur darat saja karena biasanya kalau pesawat pasti mahal sekali jika menjelang lebaran. 

Sebenarnya aku sendiri khawatir sih dengan rencana itu karena suamiku kan belum pernah mudik ke Bengkulu dengan mobil. Apalagi dia sendiri belum pernah punya pengalaman melakukan perjalanan lintas provinsi sejauh itu. 

Kalau hitung-hitungan dari Gmap, berkendara dengan mobil ke Bengkulu dari Tangerang itu bisa menghabiskan waktu hingga 16-17 jam. Itupun jika nonstop berkendara. Kurasa 16 jam itu sesuatu yang mustahil untuk dicapai karena kami berangkat bersama anak-anak juga. Tahu sendiri kan gimana rasanya traveling sama bocah, pasti akan ada rempong-rempongnya hihi. 

Namun suami tetap bertekad untuk naik mobil saja. Kupikir ya sudah, yang penting tahun ini bisa mudik pokoknya.

Kami juga sepakat untuk tidak ngoyo saat berkendara karena memang perjalanan membawa anak-anak kecil pasti bukan sesuatu hal yang mudah dijalani. Apalagi ini adalah perjalanan pertama untuk kami semua. Pokoknya yang penting selamat sampai tujuan. Itu saja. 


Persiapan Menuju Mudik


Rasanya aku mulai persiapkan sejak sebulan sebelum berangkat. Aku mulai melist kebutuhan apa saja yang dibutuhkan yaitu :

1. Pakaian
Sebenarnya ini bagian teribet buatku karena harus mengecek pakaian dan perlengkapan untuk 5 orang sekaligus. Tiap orang juga harus dipikirin lagi berapa baju santai yang perlu ditaruh di koper, berapa pakaian dalamnya, pakaian bepergian, pakaian yang dibawa di mobil (jika sewaktu-waktu mungkin ada yang muntah atau bajunya kotor selama perjalanan) dan pakaian selama menginap di hotel. 

Aku sengaja bedakan menjadi beberapa kategori untuk memudahkan, yaitu pakaian selama di Bengkulu, selama perjalanan dan selama di hotel. Maksudnya biar gak perlu buka-buka koper lagi karena koper kan diletakkan di belakang. Semua pakaian lalu dimasukkan ke dalam tas yang berbeda. Semua pakaian juga sudah digulung perstel. Jadi satu gulungan sudah lengkap baju, celana dan pakaian dalam supaya nanti pas mau pakai tinggal ambil pergulungan aja. 

Untuk suami, aku tambahin kain sarung supaya bisa buat sholat dan santai. Berhubung suami gampang berkeringat, kaos dalamnya aku banyakin jumlahnya supaya cadangannya banyak.

Semua itu belum ditambah perintilan lain ya. Seperti handuk, kaus kaki, jilbab dan jaket. Pokoknya baju-baju sudah mulai aku cicil untuk dimasukkan ke tas beberapa minggu sebelum berangkat supaya nanti tinggal memikirkan perintilan lain yang perlu dibawa. 

Untuk alas kaki, aku gak bawa cadangan. Jadi apa yang kami pakai selama perjalanan, maka itulah yang dipakai ketika nanti di Bengkulu. 

2. Perlengkapan Istirahat di Mobil
Jadi kami rencananya membuat tempat tidur di belakang. Kursi belakang dikeluarkan supaya bisa memasukan karpet dan selimut. Tapi sebenarnya dari sisi safety ini kurang disarankan ya guys.. Wkwk. Masalahnya kalau anak duduk terus di mobil malah kasihan, makanya dibikinin tempat buat bisa rebahan. 

Dua anakku tidur di belakang. Sementara yang kecil di tengah bersamaku. Aku tidak duduk di depan karena di depan sudah diisi perlengkapan bapake. Dia bawa komputer soalnya wkwk.. Buat kerja dan berbagai perlengkapannya yg lain. Anak-anak semua disiapkan bantal dan selimut. Jaket aku taruh di mobil kalau seandainya mereka kedinginan. 

3. Obat-obatan 
Untuk obat-obatan aku membawa beberapa hal seperti minyak kayu putih, vitamin anak, madu, paracetamol, obat batuk pilek, minyak urut (kalau seandainya si bapak pegel wkwk), termometer dan hansaplast. Itu aja sih. 

4. Makanan di Perjalanan
Ini wajib sih ya. Terutama cemilan. Selama perjalanan selain membawa air putih, aku juga siapkan kopi botol buat suami, teh botol, lasegar, u C 1000, minuman jahe, dan isotonik. Banyak banget yak wkwk.. Belum lagi cemilan, aku bawa roti, keripik, permen kopi, permen jahe, sereal, dan cemilan kesukaan anak-anak. 

Hindari makanan yang ribet saat dimakan atau kira2 makanan yang bisa menimbulkan noda di mobil. Dan hindari makanan yang kira-kira bisa membuat pencernaan terganggu atau malah membuat mual. Kalau anak-anak sih aku hindari cokelat dan susu karena memang kadang bikin pencernaan jadi tidak nyaman. 

5. Mainan Anak-anak 
Jangan lupa bawa mainan kesukaan anak-anak ya. Sebaiknya jangan bawa mainan yang ribet atau kecil-kecil karena nanti malah berantakan dan ga nyaman pas di mobil.

6. Cek Mesin Kendaraan
Ini wajib ya. Sebelum berangkat pastikan mobil dalam keadaan oke untuk berkendara. Suamiku juga sempat bawa ke bengkel bahkan ada beberapa bagian yang diganti karena udah gak oke. Trus siapin peralatan mobil semacam Dongkrak dan ban cadangan. 

Namun, perlu ketelitian abang tukang bengkel juga kali ya untuk mengecek semua bagian. Soalnya pas perjalanan ternyata ada satu bagian yang bermasalah dan gak kedetect abangnya pas lagi cek mobil. Akhirnya pas perjalanan sempet terganggu juga tuh. Bagian yang bermasalah itu ternyata karburator (atau radiator ya? hehe). Akhirnya mobil jadi cepet panas pas di tol atau pas nanjak. Makanya pas mau ke Pelabuhan dan pas di tol Lampung, kami harus berhenti berkali-kali karena mesin cepat panas.

Selain beberapa barang bawaan diatas, di hand bag aku juga bawa perintilan yang penting untuk dibawa. Misalnya saja dompet ( atm, uang logam buat parkir, duit buat dijalan, ktp), minyak kayu putih, tisu basah, hand sanitizer, plastik kresek (jaga-jaga kalau ada yang muntah), mukenah, dan obat-obatan yang perlu dikonsumsi rutin (kayak aku, suplemen hamil aku bawa di tas). Semua ditaruh di tas kecil supaya gampang ngambilnya. 


Perjalanan pun Dimulai

Nah, karena kami akan melewati jalur darat, jadi nanti sudah pasti akan naik kapal. H-1 Sebelum berangkat suami sudah pesan tiket secara online. Ternyata untuk memesan kapal, sekarang memang harus pesen tiket online. Jadi sebaiknya sebelum berangkat, tiket kapal sudah harus dipesan ya. Jangan pas baru nyampe pelabuhan baru pesan. Nanti jadi ribet karena banyak data yang harus diisi. Sebaiknya sebelum berangkat kita sudah pegang tiket supaya nanti tinggal masuk kapal. Pastikan saja kira-kira jam berapa sampai di pelabuhan, nanti tinggal pilih jam keberangkatan. Dilebihin aja waktunya karena kita gak tahu nanti dijalan bakal ada kendala apa. 

Kalau kemarin kami mepet banget karena mobil si bapak sempat panas pas di tol. Kaget juga sebenarnya karena kita pikir kemarin udah oke semua pas di bengkel. Tapi alhamdulillah bisa nyampe tepat waktu. Pas banget deh pokoknya. Ya udah deh langsung naik kapal.


Saat mobil mau naik kapal


Disana kami semua turun. Lalu naik ke atas. Saran aja sih kalau mau naik kapal sebaiknya pilih parkir di atas biar pas istirahat gak capek naik turun tangga. Kami kemarin parkirnya di paling bawah, alhasil pas mau ke atas harus naikin beberapa tangga.

Nah, setelah sampai di ruangan tunggu, Alhamdulillah semua dapat tempat duduk. Nyaman juga ternyata. Mushola dan toilet juga gak jauh. Nah di sini aku agak nyesel kenapa gak bawa sarapan karena ketinggalan di mobil. Mau turun lagi rasanya gak sanggup euy apalagi kapal udah mulai jalan. Jadi ya sudahlah akhirnya nunggu aja di kapal karena nunggunya pun ternyata hanya lebih kurang satu jam saja. Disana sebenarnya ada yang jual makanan tapi hanya indomie gitu sama cemilan dan minuman. Tidak ada yang jual makanan berat. 

Kami sempat menikmati pemandangan di luar. Terutama saat matahari akan terbit. Masya Allah ya bagusnya memandangi laut yang luas dan matahari yang bersinar. Oh iya, anak-anak dipegang ya pas liat pemandangan di luar, karena walaupun kapal dibatasi terali tetep aja serem kalau ada apa-apa.


Melihat matahari terbit


Fasilitas di kapal menurutku cukup oke. Mushola dan toiletnya bersih. Tempat tunggunya juga cukup nyaman. Hanya pas mau ke toilet aja tuh sempet ngantri. Disana juga disediakan matras untuk orang-orang yang mungkin mau rebahan. Ada juga fasilitas bermain anak walaupun gak lengkap banget tapi ada tempat perosotan gitu. Pas kesana cukup banyak juga anak-anak yang main. 


Sudah mendekati Pelabuhan Lampung


Perjalanan terbilang cukup cepat. Sekitar jam 6-an pagi kami sampai (tadi kapal mulai berangkat sekitar jam 5). Oh iya, kami beli tiket yang eksekutif ya, bukan reguler. Katanya sih bedanya eksekutif dengan reguler adalah kalau reguler itu mobil ngantri bersama dengan truk atau bis gitu pas masuk. Jadi bisa lama ngantrinya. Kalau naik eksekutif bisa lebih cepat. Harganya beda 150ribuan kalau gak salah deh. Kalau dari fasilitas yang diterima sih sama aja. Gak ada bedanya antara reguler dan eksekutif. Jadi kalau kalian gak buru-buru banget, pilih reguler mah gak apa-apa menurutku. Tapi kalau malas ngantri bareng truk dan bis, ya silakan pilih eksekutif. 

Sesampainya di Lampung

Saat kami lihat kapal mulai akan berlabuh, kami sempatkan untuk sejenak jalan-jalan di kapal soalnya udah mulai sepi. Orang-orang sudah mulai turun menuju kendaraan masing-masing. Kami pun berfoto sejenak dan melihat ke arah ikon mahkota kota Lampung yang jadi ciri khas wilayah itu dari kejauhan. Setelah puas, barulah kami turun menuju kendaraan.





Kami memutuskan memakai rute tol Lampung. Tol Lampung ini terbilang baru ya karena diresmikan tahun 2019. Di dalam tol juga ada beberapa rest area yang bisa didatangi untuk sekedar melepas lelah. 

Sayangnya ada beberapa rest area yang menurutku sepi banget dan kurang lengkap fasilitasnya. Lebih baik emang nyari rest area yang ada masjid dan terlihat ramai. 


Masjid di rest area rata-rata namanya sama. Tapi jadi mengingatkan diri sendiri bahwa perjalanan mudik ini memang memberi banyak hikmah.


Oh iya, berikut beberapa rest area yg bisa dikunjungi. Jalur A itu artinya jalur menuju ke Lampung. Kalau jalur B adalah jalur balik menuju Pelabuhan Bakauheni.

Ruas Tol Bakauheni-Terbanggi Besar
KM 20 jalur A
KM 20 jalur B
KM 33 jalur A
KM 33 jalur B
KM 49 jalur A
KM 49 jalur B
KM 67 jalur A
KM 67 jalur B
KM 87 jalur A
KM 87 jalur B
KM 116 Jalur A
KM 116 Jalur B 

Ruas Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung

KM 163 A
KM 172 B
KM 208 A
KM 215 B
KM 234 A
KM 269 B
KM 277 A
KM 306 B
KM 311 A

(Sumber : https://m-bisnis-com) 

Boleh dibilang kami mengunjungi hampir semua rest area karena memang mesin mobil cepet panas. Jadi mau gak mau harus stop dulu. Pas stop gitu biasanya kami manfaatkan untuk ke toilet, merenggangkan badan biar gak pegel banget di dalam mobil, makan, kadang suami juga numpang mandi kalau udah mulai gerah. 


Oh ya, untuk makanan aku agak kurang puas sih makan di rest area. Waktu itu makan di tempat makannya gitu kan, ternyata makanannya kurang fresh. Waktu itu memang suami yang memilihkan tempatnya sementara aku di mobil bersama anak-anak. Ketika sudah dipesan, barulah kami turun. Sebenarnya rame sih disana, mungkin karena itu juga suami pilih makan disitu. Tapi ternyata makanannya kayak makanan yang diangetin gt. Aku lupa sih waktu itu makan di rest area yang mana.

Piring kotor dari pengunjung sebelumnya

Belum lagi piring kotor punya orang numplek aja di atas meja mengundang lalat datang.  Tidak ada inisiatif dari yang berjualan untuk membersihkan piringnya padahal mereka sudah tahu mejanya seberantakan itu. Sementara meja lain juga gak ada yang kosong, mau cari tempat duduk lain juga gak ada.

Kalau mau makan di rest area, mending pilih restoran yang tertutup kali ya. Bukan kayak tempat makan di kantin gitu. Seingatku ada satu restoran yang tertutup. Tapi kurang tahu juga sih apakah rasanya enak atau nggak karena nggak nyobain waktu itu. 

Oh ya, di setiap rest area rata-rata ada mini marketnya. Jadi sangat membantu jika ingin mengambil uang Cash dsb. Soalnya ATM gak selalu ada (bahkan gak ada apa ya?) di rest area tersebut. 

Nah, perjalanan di tol ini lumayan lama ya. Kami baru keluar tol pas jam 16.00an kalau ga salah. Baru deh lanjut ke Prabumulih. Bayangkan lho dari jam 06.30 sampai jam 16.00 kami di tol terus. 

Peta Gmap Perjalanan Bengkulu - Lampung. 



Menginap Dua Malam

Berhubung suami nyetir sendirian disini, memang cape banget kalau sampai siang malam harus berkendara di jalan. Akhirnya kami memutuskan untuk menginap di hotel atau penginapan saat malam supaya semua bisa istirahat. Waktu itu kami memilih menginap di hotel Oyo di Prabumulih. Awalnya sempat bingung nyarinya karena masuk ke dalam gitu tempatnya, jadi gak keliatan kalau dari jalan besar. Tapi parkirannya cukup luas. Ada taman-taman juga walaupun kami ga banyak bermain disana karena nyampenya udah malam dan pagi-pagi harus berangkat lagi.

Menurutku hotelnya lumayan sih. Toilet cukup bersih. Harga terbilang cukup murah kata suami. Kami memilih dua tempat tidur dalam satu kamar. Untuk tempat istirahat sih cukup oke.

Sesampainya di hotel, kami makan dulu, bersih-bersih lalu tidur. Besoknya berangkat sekitar jam 7an pagi.  Pengennya sih berangkat lebih pagi tapi suamiku keasyikan ngobrol sama pemilik hotel.

Kami pun berangkat menuju linggau. Awalnya sudah fix pakai jalan apa, eh taunya jalan yg biasa dilalui ditutup karena ada pembangunan flyover katanya. Akhirnya kami mutar balik nyari jalan lain. Setelah itu kami berhenti untuk sarapan. Sekalian juga pesan lagi untuk makan siang supaya nanti gak pusing lagi nyari makan. 
 

Tersesat!


Nah, setelah itu terjadilah kejadian yang kurang mengenakkan. Entah bagaimana ceritanya, kami tersesat. Waktu itu aku memang ketiduran di jalan padahal biasanya aku ikutan melek kalau suami lagi nyupir. Pas bangun-bangun kulihat kami sedang berada dijalan yang agak sepi. Tapi pada saat itu masih ada kendaraan lewat sih. Hingga makin lama kok jalan makin jelek. Kami lalu berhenti di sebuah masjid yang baru dibangun untuk melaksanakan sholat dzuhur. Itu tempatnya bener-bener kayak di kampung gitu ya. Disana ada anak laki-laki yang ikut sholat. Kami sempat memberi cemilan pada mereka dan sedikit uang jajan. Mereka terlihat senang sekali. Pun dengan kami yang ikut senang dengan keramahan anak-anak itu.

Nah, setelah selesai sholat kami melanjutkan perjalanan mengikuti gmap. Soalnya nanya ke penjaga mesjid, mereka malah gak tahu dimana itu Curup. Sesuatu yang cukup mengherankan sih karena daerah Sumatera Selatan itu biasanya familiar dengan Curup atau Kepahiang. Setidaknya pasti pernah dengarlah. Namun ya sudahlah, kami tetap meneruskan perjalanan mengikuti gmap meski memang terasa ada yang mengganjal. Ternyata jalannya makin lama makin jelek. Hingga sampailah kami di sebuah jalan lebar, belum beraspal, sepi, dan yang mengerikan adalah sinyal ga ada! Kami kayak terdampar di sebuah tempat tak berpenghuni.
 
Kami tersesat! Gak mungkin jalan lintas provinsi sampai sejelek ini. Akhirnya suami memutuskan kembali ke jalan sebelumnya. Dan setelah melewati jalan tadi, sampailah kami ke jalan besar. Kami baru sadar bahwa 4 jam waktu kami sudah terbuang karena dari tadi kami gak menambah perjalanan sama sekali. Kami masih di sekitar Prabumulih dan kami baru saja melewati sebuah daerah pelosok yang entah dimana. Duh, lelah banget rasanya. Tapi Alhamdulillah anak-anak gak rewel. Dan alhamdulillah juga saat tadi tersesat itu masih siang. Ga kebayang kalau sore-sore atau malam kami berada di daerah tak bersinyal dan sepi seperti tadi. Serem banget ngebayanginnya.
 
Kami akhirnya berhenti di masjid dan makan disana. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Lahat. Disana kami mencari hotel dan beristirahat disana. Aku pribadi lupa dengan nama hotelnya. Tapi hotelnya standar sih. Yang penting bisa untuk istirahat. Kami pesan kamar dengan dua tempat tidur. Ternyata tempat tidurnya agak kecil. Tapi masih muatlah. Keesokan paginya kami sarapan. Menunya minimalis banget. Cuma ada nasi dan telor rebus disambel. Ya alhamdulillah.

Setelah itu alhamdulillah perjalanan terbilang cukup lancar, walaupun saat di Lahat, Nayra sempat muntah karena jalannya yang mulai berkelok. Dari Lahat kami jalan menuju Linggau. Di Linggau kami sempat istirahat di masjid. Masjidnya gede, tempat wudhunya banyak. Ada di tengah kota. Aku lupa namanya. Masjidnya bagus dan sangat luas tapi sayangnya masid seluas itu gak terlihat tempat sampah. aku sampai cari kemana-mana tapi nemu satu aja. itupun berupa kardus sisa jualan orang yang dijadikan tempat sampah. Akibat gak ada tempat sampah, itu boleh dibilang banyak sampah bergeletakan di depan masjid. Semoga kedepannya akan ada banyak tempat sampah dan sebagai muslim pun kita punya kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan.
 
Pengen foto-foto masjid tapi entah kenapa ga mood.. wkwk
 
 
Sejujurnya kami gak sempat mencari makan siang karena khawatir terlalu memakan waktu. Kami tidak mau terlalu sore ketika sampai di Padang Ulak Tanding (sebuah daerah yang katanya agak rawan). Jadi untuk makan siang, anak-anak makan roti saja di mobil. Kami lalu melanjutkan perjalanan ke Curup. Alhamdulillah setelah sekian lama perjalanan akhirnya sampai juga di rumah. Kami disambut oleh pelangi di kaki bukit. Masya Allah bagus sekali. Saat itu sekitar pukul 16.30.
 
 

Alhamdulillah..

 
Sungguh jauh perjalanan mudik kali ini. Ada suka dan dukanya.  Banyak hikmah yang didapatkan. Tapi intinya, selama perjalanan selalu sempatkan untuk berdzikir supaya lebih menenangkan hati terutama ketika dihadapkan pada kondisi yang tak terduga. Kami tinggal di kampungku Desa Meranti Jaya kurang lebih seminggu. Sebenarnya ingin lebih lama tapi suami harus bekerja dan Nayra pun sudah mulai masuk sekolah. Sebelum pulang, suami juga mengecek mobil terlebih dahulu di bengkel dan ternyata memang ada masalah di karburator (atau radiator ya?). Alhamdulillah bisa teratasi sebelum keberangkatan.

Selama di kampung kami menyempatkan diri ke makam datuk Nayra dan ke tempat saudara. Untuk perjalanan pulang, kami menempuh rute berbeda supaya bisa ke Kota Bengkulu dan berkunjung ke rumah sodara dekat. Sebenarnya banyak yang harus dikunjungi tapi karena keterbatasan waktu akhirnya selama mudik di Bengkulu aku hanya bisa mengunjungi beberapa kerabat saja.


Masjid Almuhajirin yang sedang direnovasi



Makam Datuk Nayra

 

Berkumpul bersama di rumah




Berfoto sebelum pulang ke Tangerang


Di rumah Kakakku Agustian

Di rumah Bibikku Arini

Kami lalu melanjutkan perjalanan ke Manna, Kaur dan Lampung. Perjalanan pulang cenderung lebih lancar alhamdulillah. Kami juga menginap dua malam di Manna dan di Lampung. Selama perjalanan, pemandangannya pun juga bagus karena kami melewati pinggir Lampung yang notabene adalah pantai.



Pantai Kaur

Kami juga sempat istirahat di pantai. Dan itu cukup menyenangkan. Sebenarnya ada juga pantai yang cukup bagus di Lampung tapi berhubung anak-anak sudah kecapekan, mereka semua sudah minta untuk pulang. Akhirnya kami hanya sempat bermain di pantai Kaur saja.





Perjalanan panjang ini jujur saja mengajarkan banyak hal buatku. Terutama tentang kesabaran dan kepasrahan kepada Allah. Bahwa terkadang ada hal-hal yang tidak berjalan sesuai dengan yang kita harapkan sehingga kita perlu tetap tenang dan tawakal pada Allah sambil terus mencari solusi terbaik. Perjalanan ini seperti sebuah petualangan dan terkadang juga mengingatkanku bahwa kita di dunia ini hanya sekedar mampir. Semoga suatu saat bisa berpetualang lagi dalam kondisi yang lebih baik agar bisa berjumpa dengan orang-orang tersayang dalam kondisi yang lebih menyenangkan.. aamiin.


24 komentar untuk "Story of My Life : Perjalanan Mudik Bengkulu 2022"

  1. Luar biasa perjalanan mudiknya

    BalasHapus
  2. Langsung nge-save lokasi rest areanya, nih. Maklum mungkin waktu dekat saya juga harus berkunjung ke Bengkulu. Terima kasih informasinya, mbak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah.. Semangat2. Semoga lancar perjalanannya.

      Hapus
  3. Maasya Allah keren.. lama di perjalanan memang menguras emosi, apa lagi ini sampai lintas pulau dan provinsi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ditambah lagi bawa anak-anak masih kecil hihi. Nano2 rasanya

      Hapus
  4. Ingin rasanya seperti yang lain, mudik, tapi saya gak punya kampung hehehe, alhasil nyoba buat solo traveling -mengunjungi 3 kota di pulau Jawa, dan relate sih sama cerita mbaknya, bahwa kadang kesal dengan lamanya perjalanan. Tapi seolah senua itu terbayarkan tatkala tujuan berhasil dicapai. ~Tweet ilmu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah seru ya. Kalau saya sebenarnya males mudik krn mikirin persiapannya aja uda capek. Yg menguatkan utk mudik hanyalah Karena pengen ketemu keluarga tercinta.

      Hapus
  5. Petualangan yang sangat seru, selain bertamasya, obat hati paling mujarab adalah bertemu orang tua. Perjalanan pulang kampung akan selalu meninggalkan kesan dan cerita. Mantap kak ceritanya, saya ikut terbawa jalan2 nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul.. Tujuan utama mudik buat saya hanyalah untk bertemu ibu dan sodara (berhubung ayah sudah tiada)

      Hapus
  6. MasyaAllah perjalanan yang panjang sekali. Demi bertemu keluarga dan sanak famili, jarak jauh pun dijabani ya mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya.. Soalnya ud hampir 4 th ga mudik lebaran.. Jd walaupun banyak rintangan dan capek, tetap dijalani.

      Hapus
  7. Seru banget kisah mudiknya, Mbak. Perjalanan jauh gitu bisa dilalui, sungguh luar biasa *kekaguman orang yang kadang masih mabuk kendaraan*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak saya juga ad yg mabuk mbak hihi... Apalagi pas lewat gunung...

      Hapus
  8. Seru bangetttt mudiknya!! Whoaa kangen sekali bisa merasakan roadtrip darat kaya gini

    BalasHapus
  9. Ternyata nyebrangbya sebentar ya mba, cuma 1 jam-an. Konon sejak ada tol bnyk yg ingin adventure jalan darat untuk traveling ke daerah sumatera. Next instaAllah pingin nyoba jg, sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Bentar ternyata. Dan seru juga pas liat matahari terbit. Yuk kapan2 traveling ke Sumatera.

      Hapus
  10. MashaAllah~
    Perjalanan asik sepanjang mudik ini menjadi pengalaman dan bisa diambil hikmah selama perjalanan. Salah satunya yang asik kalau bawa kendaraan sendiri saat mudik adalah bisa keliling tanpa khawatir, kan bawa kendaraan sendiri. Hhhee, jadi gak perlu pinjem-pinjem kendaraan orangtua atau saudara.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul. Kalau kemana-mana jd lebih mudah ya karena bawa kendaraan sendiri.

      Hapus
  11. Mudik pulang kampung? wow...sangat menyenangkan ya. Apalagi membawa kendaraan sendiri, lebih memudahkan bisa tour kebanyak tempat ya kak

    BalasHapus
  12. Mudik penuh perjuangan ya mbakk ..

    BalasHapus
  13. Wah, senangnya, aq belum pernah nich pergi keluar pulau Jawa and pake kapal, mudah2an nanti bisa ngerasain jugaa, Aamiinnn

    BalasHapus
  14. Wah,, jadi kangen merantau ke negeri orang. Rindu : kata yang udah lama sekali tak terucap ketika berada ribuan kilometer dari rumah tinggal.

    BalasHapus